Imam Malik adalah salah satu dari 4 Imam dari Mazhab fiqih dari ulama’ ahlus sunnah wal jama’ah, ilmunya begitu tinggi hingga di sebutkan bahwa beliau hapal lebih dari 500 ribu hadits berikut sanad dan matannya yang sampai kepada Rosulullah SAW. Guru Imam Malik yang terutama yaitu Imam Ahmad Ibn Hambal, Imam dari mazhab Hambali yang juga menghapal hadits kurang lebih sama jumlahnya dengan Imam Malik dan Imam Ahmad berguru kepada ‘Al-Faqih Al-Muqoddam’ Muhammad bin Alawi leluhurnya para Alawiyyin yang mana Muhammad bin Alawi ini mendapatkan ilmunya secara turun-temurun, tersambung sampai Imam Ali Zainal Abidin ‘As-Sajjaad’, lalu kepada Imam Husin Bin Ali, lalu Imam Ali bin Abi Thalib ‘Karramallahu Wajhah’, sahabat merangkap sepupu merangkap menantu dari Rosulullah, dan Rosulullah pernah menyatakan bahwa keturunan dari Ali dan Fathimah adalah penerus dari ‘Keturunan Suci’ atau lebih dikenal dengan ‘Ahlul Bait’.
Kelahiran Imam Malik sudah di prediksi sebelumnya oleh Rosulullah SAW sebagai mana sabdanya “Akan lahir sesudah ku seorang yang ‘alim di kota Madinah, yang mana orang-orang akan memicu onta dan kudanya untuk berguru kepadanya”, dan pada masa hidupnya pun orang menggelari Imam Malik dengan gelar “Aalimil Madinah” atau orang yang berilmu dari kota Madinah.
Imam Malik sangat mencintai Rosulullah SAW, sangat menghormati para keluarga Rosulullah, dan sangat menjunjung tinggi hadits-hadits Nabi, apabila beliau ditanya oleh seseorang tentang suatu hadits atau beliau hendak mengajarkan suatu hadits kepada murid-muridnya maka beliau menyempatkan diri untuk memakai pakaian yang bagus, memakai minyak wangi dan bersiwak, setelah itu baru beliau berkata “Aku mendengar dari guruku, dan guruku mendengar dari gurunya…. ” dan seterusnya sampai “Dan salah seorang sahabat mendengar Rosulullah SAW bersabda ……..”, hadist-hadits yang beliau sampaikan terjaga keotentikannya, mencapai derajat shohih, dan di sepakati oleh ulama-ulama lainnya.
Imam Malik adalah guru utama dari Imam Syafi’i, dan Imam Syafi’i adalah murid kesayangan dari Imam Malik, banyak hadits yang diwarisi oleh Imam Syafi’i dari Imam Malik. Hingga suatu saat Imam Malik memanggil Imam Syafi’i dengan bermaksud menghadiahkan kuda dan ontanya yang berjumlah kurang lebih 10.000 ekor kepada Imam Syafi’i. Rasa ingin tau Imam Syafi’i pun mendorongnya untuk bertanya “Mengapa kau hadiahi aku dengan kuda dan onta yang demikian banyak, dan tidak kau sisakan satu pun untukmu ?”, Imam Malik menjawab “Aku hanya ingin berpergian dengan berjalan kaki, karena aku malu menunggangi kuda dan ontaku dia atas muka bumi yang di dalam nya terkubur jasad suci Rosulullah SAW”.
Demikian cermin kecintaan Imam Malik kepada Rosulullah SAW, dan sudah sepatutnya kita ummat yang hidup di akhir zaman ini menghormatinya, karena menghormati ulama sama dengan menghormati Nabi, menghormati Nabi merupakan jalan menuju rido nya Allah SWT.