Ghaisy Al-Qorny adalah seorang yang yatim sejak kecil yang hidup sejaman dengan Rasulullah namun tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah, hidupnya amat sederhana, mata pencariannya adalah pencari kayu bakar tapi seluruh hasil penjualannya diberikan kepada ibunya, sehari-hari dia makan dari sampah makanan yang dibuang orang, karena baginya sampah adalah makanan yang paling halal. Ditempat asalnya, desa Qorny, Yaman, Ghaisy Al-Qorny tak ayal lagi dicemooh sebagai orang gila.
Ghaisy Al-Qorny terkenal orang yang sangat taat kepada ibunya. Suatu ketika Ghaisy Al-Qorny ingin melampyaskan rasa rindunya kepada Rosulullah, manusia yang paling diidolakannya, sebelum pergi Ghaisy pamit kepada ibunya dan ibunya mengijinkan dengan syarat Ghaisy tidak boleh bermalam, sebelum matahari terbenam ibunya ingin Ghaisy sudah ada di rumah. Tapi apalah daya, salam yang dia ucapkan di pintu depan rumah Rosulullah dijawab oleh Aisyah istri Rosul, dan Aisyah mengabarkan bahwa Rosulullah sedang di medan perang, maka pulanglah Ghaisy dengan perasaan hampa.
Cinta Ghaisy bukan tidak terbalaskan, berita kedatangan Ghaisy pun sampai ke telinga suci sang Nabi, dan Rosulullah memerintahkan sahabat, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali sekiranya mereka berjumpa dengan Ghaisy agar mereka meminta untuk didoakan. Dengan perasaan penuh penasaran mereka pun menanti kedatangan Ghaisy Al-Qorny.
Lepas setelah wafatnya Rasulullah, Abu Bakar pun terpilih sebagai khalifah.
Musim haji tiba. Para kafilah berdatangan ke Mekkah untuk berhaji. Selesai menunaikan ibadah haji para kafilah dikumpulkan untuk diberi jamuan seadanya. Umar naik ke atas mimbar dan berkata, ‘Di antara kalian, yang mana yang berasal dari Yaman ? ‘ maka berdirilah kafilah Yaman, kemudian bertanya lagi kepada kafilah Yaman, ‘Di antara kalian, yang mana penduduk Qorny ?’ maka selain penduduk desa Qorny kembali duduk, kemudian Umar bertanya kembali, ‘Diantara kalian, adakah yang bernama Ghaisy ?’, ‘Ghaisy tidak berhaji tahun ini’ jawab salah seorang penduduk Qorny yang mengenal Ghaisy.
Tahun demi tahun berlalu namun pencarian akan Ghaisy belum juga didapat hingga tampuk ke khalifahan berpindah ke Umar ibn Khattab.
Saat menjadi khalifah Umar akhirnya berjumpa dengan Ghaisy Al-Qorny, bersama Sayyidina Ali R.A beliau memintakan do’a kepada Ghaisy, Sayyidina Umar bertanya ‘Apa yang membuatmu memiliki keistimewaan seperti ini ?’, Ghaisy hanya menjawab singkat ‘Berbakti kepada orang tua’.
Banyak hal yang dapat diambil himahnya dari kisah singkat ini, diantaranya adalah manusia yang mulia di sisi Allah tidak bisa dilihat dari penampilan, bahkan penampilan cendrung menipu, Ghaisy Al-Qorny nyaris dikatakan orang yang tidak waras di kampungnya karena sehari-harinya memakan makanan sisa orang yang dibuang, namun karena cinta pada Allah, cintanya pada Rosulullah, cintanya kepada kedua orang tuanya menjadikan dia orang yang do’anya tidak pernah ditolak oleh Allah, bahkan Rosulullah memerintahkan 4 orang sahabatnya yang paling utama untuk meminta do’a kepadanya. Banyak lagi Ghaisy – Ghaisy yang hidup sesudah nya dan hidup zaman sekarang yang menjadi peredam murkanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Lalu, bagaimanakah kedudukan kita di sisi Allah? Wallahu a’lam bishawaab.
Ghaisy Al-Qorny