Racun Paradigma

Ilmu pengetahuan erat kaitannya dengan kehidupan, biasanya menjabarkan apa dan mengapa-nya. Ilmu pengetahuan timbul dari rasa keingintahuan manusia sebagai makhluk berakal, acap kali sebagai pemuas intelektualitas. Banyak metode dan landasan pemikiran yang berkembang pada saat ini dalam proses manusia mencari apa yang semula ia tidak tau. Namun amat sangat disayangkan jika sebagai manusia yang dalam Al-Qur’an disebutkan sebagai makhluk Allah yang memiliki derajat tertinggi (fii ahsani taqwiim) yang di lengkapi dengan Cipta, Rasa dan Karsa hanya menggunakan Cipta (akal) nya saja sebagai landasan metode mencari ilmu pengetahuan, sehingga sering kali manusia dalam pencariannya hanya sampai pada pengetahuan yang bersifat materi, apa yang terlihat, apa yang terasa maka itu ada (cogito ergo sum), tidak sampai kepada hakikat dari materi tersebut. Inilah fenomena ilmu pengetahuan kita yang pelajari di bangku sekolah mulai dari SD sampai bangku kuliah, yang kita pelajari dari para ilmuwan barat.

Dalam ilmu Islam yang berlandaskan Al-Qur’an yang merupakan wahyu dari sang Maha Pencipta dan Al-Hadits yang merupakan cerita atau uncapan Rasulullah SAW yang menjadi penjabaran dari isi Al-Qur’an itu sendiri banyak mengajarkan ilmu pengetahuan yang penjelasannya sampai kepada hakikat dari materi. Sebagai contoh tentang penciptaan manusia, di bangku sekolah kita mempelajari bahwa manusia berasal dari kera, yang sebelumnya kera itu sendiri berasal dari hewan melata yang berevolusi karena kondisi alam atau kejadian tertentu (teori Darwin). Teori ini terdapat kecacatan pada mata rantai evolusi dari kera menjadi manusia (missing link), dan teori ini telah terbantahkan dengan cerdas oleh seorang ilmuwan islam yang bernama Harun Yahya (www.harunyahya.com). Dalam Al-Qur’an di jelaskan bahwa manusia berasal dari Adam dan Hawa, nyata sekali perbedaan dari kedua pernyataan tersebut, yang satu melecehkan atau menghinakan dan yang satu memuliakan, dan saya merasa tidak satu manusia pun di muka bumi ini yang bersedia dikatakan bahwa dirinya adalah turunan kera meski itu Darwin sendiri. Allah memuliakan manusia dengan menyatakan bahwa manusia adalah keturanan Nabi, yang pada awalnya diciptakan langsung oleh-Nya, dan setelah diciptakan Nabi Adam di banggakan di hadapan para malaikat-Nya, dan memerintahkan para malaikat untuk bersujud (merendahkan diri untuk taat) dihadapan Nabi Adam.

Contoh lain adalah pengetahuan tentang benda, dimana saat ini ilmu yang kita pelajari hanya sebatas susunan dari materi itu sendiri, setiap materi tersusun atas partikel-partikel atom yang kecil yang hanya dapat dilihat dengan microscope, dan partikel-partikel atom itu terdiri dari elektron, proton dan nutron yang saling bergerak. Di dalam pengetahuan islam kita juga mempelajari bahwa setiap yang bergerak pasti mempunyai ruh, dan ruh memiliki tingkatannya di mulai dari ruh bendawi, ruh hewani, dan ruh insani, dan setiap ruh berada dalam kekuasaan mutlaknya Allah. Sebagai pelajaran Allah telah menceritakan api yang menjadi sejuk ketika Nabi Ibrahim Alaihis Sholatu Wassalam dibakar oleh raja Namruz.

Sebagai umat islam kita wajib mengimani (percaya) dengan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an, hal ini mengisyaratkan kita agar dapat menghadapi setiap permasalahan yang ada tidak hanya mengandalkan fikiran (cipta, akal), tetapi juga melibatkan rasa (hati). Agar tidak terjebak dalam pola pikir materialis yang menganggap alam semesta ini terbentuk dengan sendirinya, dan tidak percaya dengan adanya alam kubur, hari kiamat, dan hari kebangkitan dimana setiap manusia dimintai pertanggung jawaban.

Inilah racun paradigma yang telah menjalar hampir ke seluruh ummat manusia yang ada di muka bumi pada umumnya, dan khususnya di bumi Nusantara yang kita cintai ini yang secara kuantitas ummat islam adalah mayoritas. Amat di sayangkan ilmu pengetahuan semacam ini masih belum mendapat revisi dari kalangan pendidik kita khususnya mereka yang beragama islam yang berkesempatan duduk di jajaran pemerintahan. Sekali lagi inilah racun yang menjerumuskan kita kedalam jurang sekuler, rasionalis dan materialis yang hanya mengedepankan logika.

Tinggalkan sebuah Komentar