Mengenang wafatnya salah satu seniman besar Indonesia Willybrodus Surendra Broto Rendra, atau akrab yang dipanggil Rendra, seniman yang juga budayawan, yang secara pribadi saya katakan bahwa beliau termasuk salah satu orang jujur di muka bumi ini, jujur dalam berekspresi, seniman sejati, dimana seni dijadikannya media berkomunikasi dengan rakyat, media membangun mereka yang masih tertidur, media pendidikan budaya, media penyadaran akan keadaan yang secara moral masih bobrok.
Baginya moral adalah akar budaya, moralnya hancur maka budaya nya pasti ikut hancur, moralnya baik budaya nya juga pasti baik. Dapat kita lihat bagaimana warisan budaya yang diwarisi oleh sunan Kalijaga, cerita Bima bertemu Dewa Ruci dan cerita Jimat Kalimosodo yang sangat mendidik dari segi spiritual dan segi filosofi. Dan dapat kita lihat juga bagaimana pada saat ini ketika moral sudah bobrok, dimana penampakan aurat di jadikan seni, daya cipta tidak ada tempat dan nilai karena kebanyakan generasi muda saat ini lupa akan akar budayanya, tidak mengerti dan berusaha mengerti arti kesenian dan budaya.
Beruntung Indonesia memiliki seniman sekaliber Mas Willy, walaupun sulit untuk membenahi bangsa ini secara gradual, namun buah pikirnya yang tak kenal lelah berupaya menahan laju hancurnya moral bangsa ini. Meski mungkin saja ada kesalahan dalam cara pandangnya atau ketidak samaan cara pandang antara kita dengan beliau, biarlah hal yang demikian itu menjadi rahmat, terlalu sayang hal yang sedikit itu membuat kita membuang buah pikirnya yang banyak dan bermanfaat. Mari sama-sama kita hayati perjalanan hidupnya, memetik hikmah dari permata yang sempat Allah titipkan di bumi nusantara ini, semoga dapat menjadi pelengkap pelajaran hidup kita menuju pendewasaan dan peningkatan kualitas hidup. Amin.
Berikut adalah petikan puisi sang maestro yang cukup fenomenal dan sempat mendapat kecaman keras dari pemerintah saat itu karena puisi ini di publish oleh Mas Willy pada saat Orde Baru berkuasa :
SAJAK SEBATANG LISONG
Oleh :
W.S. Rendra
Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………
Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.