Tribute to Mas Willy (WS Rendra), Mendidik lewat kesenian

Mengenang wafatnya salah satu seniman besar Indonesia Willybrodus Surendra Broto Rendra, atau akrab yang dipanggil Rendra, seniman yang juga budayawan, yang secara pribadi saya katakan bahwa beliau termasuk salah satu orang jujur di muka bumi ini, jujur dalam berekspresi, seniman sejati, dimana seni dijadikannya media berkomunikasi dengan rakyat, media membangun mereka yang masih tertidur, media pendidikan budaya, media penyadaran akan keadaan yang secara moral masih bobrok.

Baginya moral adalah akar budaya, moralnya hancur maka budaya nya pasti ikut hancur, moralnya baik budaya nya juga pasti baik. Dapat kita lihat bagaimana warisan budaya yang diwarisi oleh sunan Kalijaga, cerita Bima bertemu Dewa Ruci dan cerita Jimat Kalimosodo yang sangat mendidik dari segi spiritual dan segi filosofi. Dan dapat kita lihat juga bagaimana pada saat ini ketika moral sudah bobrok, dimana penampakan aurat di jadikan seni, daya cipta tidak ada tempat dan nilai karena kebanyakan generasi muda saat ini lupa akan akar budayanya, tidak mengerti dan berusaha mengerti arti kesenian dan budaya.

Beruntung Indonesia memiliki seniman sekaliber Mas Willy, walaupun sulit untuk membenahi bangsa ini secara gradual, namun buah pikirnya yang tak kenal lelah berupaya menahan laju hancurnya moral bangsa ini. Meski mungkin saja ada kesalahan dalam cara pandangnya atau ketidak samaan cara pandang antara kita dengan beliau, biarlah hal yang demikian itu menjadi rahmat, terlalu sayang hal yang sedikit itu membuat kita membuang buah pikirnya yang banyak dan bermanfaat. Mari sama-sama kita hayati perjalanan hidupnya, memetik hikmah dari permata yang sempat Allah titipkan di bumi nusantara ini, semoga dapat menjadi pelengkap pelajaran hidup kita menuju pendewasaan dan peningkatan kualitas hidup. Amin.

Berikut adalah petikan puisi sang maestro yang cukup fenomenal dan sempat mendapat kecaman keras dari pemerintah saat itu karena puisi ini di publish oleh Mas Willy pada saat Orde Baru berkuasa :

SAJAK SEBATANG LISONG

Oleh :
W.S. Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

Bid’ah dan pengertiannya

Dedicated to my best friend Wildanovsky ‘Just like your request’, n my little Bro Usep ‘keep the faith’.

“Setiap (Kullu) Bid’ah itu menyesatkan, dan setiap yang menyesatkan tempatnya di neraka”

Demikian hadits Nabi SAW yang dijadikan acuan sebagian golongan dari ummat islam yang dijadikan alasan untuk tidak mau mengikuti tuntunan para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah seperti mengadakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid), Tahlil, Ziarah kubur dan lain-lain tanpa meninjau lebih jauh lagi landasan pemikiran (dalil), maksud dan tujuannya, dengan alasan bahwa hal yang demikian tidak ada dan tidak dianjurkan oleh Rosulullah SAW semasa hidupnya, dan setiap yang tidak ada dan tidak diajarkan oleh Rosulullah itu tergolong dalam kategori bid’ah dan mereka menganggap bahwa semua bid’ah sesat dan mendapat tempat di neraka, tanpa toleransi.

Hujjatul Islam Al-Imam Nawawi dalam kitabnya “Sarh Shahih Muslim” menjelaskan bahwa hadits di atas memiliki arti Aamul Makhshush atau umum tapi memiliki makna kekhususan, dalam artian tidak semua bid’ah tergolong sesat, masih ada perbuatan yang tidak nabi kerjakan atau anjurkan tetapi tidak menyesatkan. Hal senada (kalimat yang memiliki pengertian Aamul Makhshush) juga terdapat dalam Al-Qur’an dalam surat As-Sajdah ayat 13, yang berbunyi :

“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) dari padaku; “Sesungguhnya akan aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama (seluruhnya)”

Ayat tersebut memiliki pengertian Aamul Makhshush, karena tidak semuanya manusia dan jin masuk neraka, hanya mereka yang ingkar dan menentang perintah Allah lah yang akan masuk neraka, dapat dibayangkan bila ayat tersebut diartikan secara harfiah, sia-sia amal kita di dunia ini.

Atau pada ayat yang lain pada surat Al-Qashash ayat 88, yang berbunyi :

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap (Kullu) sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.”

Pada ayat ini terdapat kata ‘tiap-tiap’ atau dalam bahasa Arab berarti “Kullu” dan setelah kalimat yang terdapat kata kullu itu kemudian di perjelas dengan adanya pengecualian. Hal ini menyatakan bahwa kata Kullu dalam bahasa Arab tidak memiliki pengertian yang sepenuhnya sama dengan ‘tiap-tiap’, atau ‘seluruhnya’ dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Arab kata tersebut masih memiliki pengecualian. Seperti yang terdapat dalam ayat di atas.

Kemudian pengertian Bid’ah itu sendiri, pada zaman sekarang ini banyak orang hanya memberikan pengertian sebatas “Segala sesuatu yang tidak ada, tidak dilakukan atau dicontohkan oleh Nabi Muhammad”. Kalau pernyataan tersebut benar adanya maka akan banyak perbuatan kita yang tergolong kedalam kategori Bid’ah, khsusunya pekerjaan yang berkaitan dengan teknologi masa kini, sebagai contoh, Microphone yang dipakai sebagai pengeras suara adzan dan sholat, hal ini tidak ada dan tidak dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya hingga ke generasi Tabi’ut-Tabi’in, atau shalat dengan memakai celana panjang, apakah ini juga termasuk perbuatan bid’ah ? dan masih banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan teknologi masa kini yang pada zaman Nabi belum ada tetapi kita pakai untuk sarana beribadah atau berdakwah seperti Al-Qur’an Seluler, atau dakwah-dakwah melalui media internet. Kalau semua itu dilarang apakah nanti jika panggilan berjihad diserukan kita akan maju kemedan perang dengan menunggangi unta dan bersenjatakan pedang ?

Untuk contoh yang tidak berkaitan dengan teknologi adalah Kiswah atau kain penutup penutup ka’bah, pada zaman Nabi Ka’bah tidak pernah ditutup dengan kain, baru pada zaman Khalifah Umar bin Khattab Ka’bah di beri penutup seperti saat ini. Contoh lain lagi yaitu Baitul Maal, pada zaman Nabi Baitul Maal tidak ada baru pada masa kepemimpinan Sayyidina Abu Bakar Baitul Maal diadakan.

Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad Alaihi Rahmatullah dalam kitabnya Risalatul Muawwanah menerangkan bahwa pengertian Bid’ah yang dimaksud hadits di atas adalah “Segala sesuatu yang tidak ada, tidak dilakukan atau dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan menyimpang dari ketentuan Al-Qur’an dan Hadits Nabi.” Atas dasar pemikiran ini juga Imam Syafi’i mengklasifikasikan Bid’ah dalam 2 macam, yaitu Bid’ah Dholalah (bid’ah yang menyesatkan) dan Bid’ah Hasanah (bid’ah yang baik). Bid’ah Dholalah adalah semua yang tidak dicontohkan atau tidak ada pada zaman Nabi dan menyimpang dari ketentuan Al-Qur’an dan Hadits, sedangkan Bid’ah Hasanah adalah semua yang tidak dicontohkan Nabi tetapi tidak menyimpang dari ketentuan Al-Qur’an dan Hadits dan memiliki relefansi dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Atas dasar inilah mereka para ulama Salafunash Sholeh menganjurkan Maulid, Tahlil, Nisfu Sya’ban, Ziarah Kubur, dll, yang semua itu mereka anjurkan berdasarkan rujukan yang kuat dari Al-Qur’an dan Hadits.

Dan atas dasar ini secara pribadi saya menghimbau kepada saudara-saudara sesama muslimin yang tidak sependapat agar kiranya dalam masalah ini biarlah perbedaan menjadi rahmat bagi kita, jangan dijadikan pemecah-belah, janganlah kita mudah mengkafirkan saudara kita sesama muslimin, mari kita melihat masalahnya lebih mendalam, melihat alasan dan landasan pemikirannya. Masalah ini terlalu panjang untuk dijabarkan diforum ini, banyak forum diskusi di internet atau buku bacaan yang bisa dijadikan rujukan klarifikasi masalah ini, ini hanya sekilas pandang dari saya.

Benar dan salahnya mari kita kembalikan kepada yang Maha Haq.
Mohon maaf bila terdapat kesalahan.
Wassalam.

Jakarta, 3 Agt 2009.

3 Agt 2009

Dedicated to my little sister, Sammy, ‘wake up n open your eyes’

Bangun pagi biar agak siangan dari biasanya gw paksain kaki gw melangkah ke garasi rumah mertua tempat motor gw diparkir, meski rada berat nuntun niat didalam hati biar bisa semangat menyongsong monday morning, ditambah pilek, ditambah bini gw yang khawatir melepas kepergian suaminya tercinta, gw paksa juga kaki gw nyela motor buatan Nippon, WRRRUUUEEENNNNGGGG……, bye bye honey, aku pergi demi kamu dan dede yang ada dalam rahim mu.

Senin pagi seperti biasa Jakarta macet gila, sambil menghayal, setengah merenungi hidup, gw berusaha mengalihkan pikiran gw supaya ga terpaku sama keadaan sekitar yang semerawut. Otista – Kp. Melayu – Casablanca – Mal Ambassador – Benhil (finally), macet demi macet gw lewatin, kadang terlintas pikiran ‘kapan ya PemDa DKI bisa atasin masalah kemacetan di Jakarta, kapan ya pemerintah bisa memfasilitasi angutan umum yang murah, pelayanannya bagus, cepet, bebas macet, bebas polusi, bebas copet, kapan ya peraturan yang membatasi jumlah kendaraan masuk di Jakarta di berlakukan, apa nunggu gw jd Gubernur dulu (ciiiieeee), apa ya solusinya, etc’.

‘Pembangunan memang pasti memakan korban’,
Kedengarannya kok kayak sentimen negatif ya, kalo gini gimana,
‘Pembangunan memang memerlukan pengorbanan’,
untuk saat ini kayaknya lebih tepat kalimat yang pertama kali ya…., abis kalo pembangunan nya bertujuan untuk kepentingan orang banyak, masyarakat menengah ke bawah, baru tepat slogan dengan kalimat kedua, tapi yang keliatan sekarang, pembangunan yang dibanyakin malah mal-mal yang posisi nya di tengah perkotaan, ditempat yang rawan macet, bikin apartemen katanya bersubsidi tapi harganya tetep aja susah dijangkau, bikin sarana angutan umum tapi penanganannya kurang serius, selesai jalannya di buat malah ninggalin masalah baru, jalanan yang tadinya ga ada lobang jadi ada lobangnya, hutan bakau yang nahan air laut malah di gusur buat ngebangun rumah mewah. Dengan kenyataan kayak gini apa pantas kita berkorban untuk pembangunan ?

Itu baru bagian kecil daftar ketidak berfihakan pemerintah kita terhadap rakyatnya, peraturannya sih bagus, kalo supremasinya berjalan dengan baik, tapi lemahnya wibawa pemerintahan kita dan buruknya moral mereka membuat mereka rela mengorbankan kepentingan orang banyak (bangsanya sendiri) demi sebagian orang yang punya duit dan kuasa. Kemana ya jiwa Nasionalisme mereka ?, kayaknya dah lupa tuh sama penataran P4 waktu pertama kali jadi PNS, apa sengaja di lupain, kalo aja mereka ga tidur waktu penataran P4 atau penatarnya bisa menanamkan ideologi Nasionalisme secara mendalam kedalam hati dan pikiran mereka gw yakin Indoneisa khususnya Jakarta ga akan seberantakan ini, mereka akan berfikir lebih jauh lagi seandainya ada pihak yang bermaksud membujuk mereka untuk melegalkan pembangunan gedung tapi ga merhatiin fasos dan fasum, tapi hari ini pun gw rasa belum terlambat untuk kita menyadari bahwa siapapun kita, kita wajib mendukung hal-hal positif yang dicanangkan pemerintah kita, menaati peraturan yang sudah di tetapkan pemerintah, menjaga kelestarian alam sekitar, menyumbangkan ide dan juga berbuat demi kemajuan bangsa tercinta ini, mulai dari lingkup yang terkecil, yaitu diri sendiri.

Banyak orang bicara masalah kebobrokan moral bangsa tapi sedikit orang yang sadar bahwa pembenahan bangsa besar ini harus dimulai dari diri sendiri dan dari sejak dini, banyak orang yang bicara kemacetan tapi tetep cuek nyelap-nyelip di jalanan bikin ga tertib, ngetem nungguin penumpang di sembarang tempat, banyak orang ngomongin global warming tapi buang sampah sembarangan, pake listrik boros, banyak orang bicara masalah lingkungan hidup tapi sambil duduk diatas rumput taman yang jelas-jelas ada tulisan ‘Dilarang Menginjak Rumput’, banyak orang bicara keprihatinan pas mo jadi caleg aja, banyak orang benci sama koruptor tapi ga malu-malu ngerusak fasilitas umum, etc. Hal-hal yang demikian ini tidak terjadi bila saja kesadaran bernegara, kesadaran bersama, kesadaran bermasyarakat, kesadaran bertetangga, cinta kepada bangsa yang mewujudkan cinta kepada lingkungan, cinta kepada generasi mendatang, cinta kepada sesama manusia tertanam di jiwa masing-masing kita.

Kita suka protes lewat nyanyian, atau suka sama orang yang menyampaikan aspirasi protes kita, tapi kita lupa bahwa negara ini tidak butuh orang yang cuma NATO (No Action Talk Only), pembangunan bukan hanya tugas pemerintah aja, arah pembangunan bangsa ini bukan hanya ditentukan oleh teknokrat aja, tapi oleh kita (rakyat) adalah elemen bangsa terbesar yang paling menentukan kemana negara kita akan kita bawa, apa wujud bangsa kita 10 atau 20 tahun yang akan datang, untuk itu kesadaran moral bangsa adalah dasar dari roda pembangunan bangsa.

Mari kita benahi bangsa ini mulai dari kita sendri, mulai saat ini, ga usah lagi mikir pemerintahan yang korup, mending kita benerin diri kita sendiri, kembali ke agama masing-masing, karena ga ada agama yang ngajarin ngerusak bangsanya, karena cuma agama yang memfasilitasi pembenahan moral dengan cara yang paling fundamental.

Maju Indonesiaku, Suburlah tanah airku. Amin.

Hidup dan kehidupan

Dedicated to my wife, ‘life is circle’

Hidup adalah lembaran panjang edukasi tanpa henti, beruntung bagi orang yang setiap harinya dapat mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang dialaminya, dan amat sia-sia bila umur telah jauh berjalan tetapi tidak satupun pelajaran kehidupan yang dapat kita petik demi pendewasaan atau peningkatan kualitas dari hidup itu sendiri.

‘Tua itu mutlak, tetapi dewasa itu pilihan’

Allah yang terkenal sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang pasti tidak sia-sia dalam membuat sketsa takdir yang sudah atau yang akan kita jalani, hanya manusianya saja yang kerap berkeluh kesah ketika mendapat musibah atau cobaan, walaupun itu adalah manusiawi, sifat manusia yang dimaklumiNya. Fluktuasi dari perjalanan hidup kalau saja kita berusaha untuk merenunginya pasti akan membuat kita berdecak kagum bahwa selalu saja Dia sang Kreator Takdir berusaha men-tarbiah atau mendidik kita dalam maiyah dunia ini. Sering kali Dia menyapa kita dengan tegurannya, mulai dari teguran ringan sampai kepada teguran yang akhirnya membuat kita tidak berdaya, namun dibalik semua itu pasti tersimpan hikmah yang seharusnya dapat kita jadikan pelajaran.

Proses pendewasaan membuat kita berfikir bahwa tidak semua sikap manusia cukup dengan mengandalkan naluri dan akal. Untuk sekedar bersukur kepadaNya saja kita butuh belajar dari yang lebih mengerti, untuk dapat berinteraksi dengan sesama makhluk hidup saja kita butuh bimbingan dan ajaranNya. Padahal manusia sudah dibekali secara lengkap dengan cipta (akal), rasa (nurani), karsa (kehendak) dan setiap manusia yang akan hadir ke muka bumi telah terlebih dahulu di fitrahkan (terformatur secara ilahiah) menyaksikan dalam alam rahimnya bahwa Tuhan yang esa hanya lah Dia, Allah, dan undang-undang yang akan di jalani dalam memilih takdir adalah Firman-Nya, namun karena tebalnya selubung dosa menutup pandangan manusia kepada cahaya wahyunya dan mengelabui pencitraan manusia hingga yang tampak hanya keindahan fatamorgana fana. Pantas saja Dia menamakan dirinya dengan Sang Maha Pengasih dan Penyayang karena berkali-kali ummat manusia lupa dan ingkar berkali-kali pula Allah mengutus Rosulnya, berkali-kali manusia khilaf tidak pernah Dia menolak saat dimintai pengampunan.

Bekal manusia yang lengkap tersebut (cipta, rasa dan karsa) membuat manusia terpilih dan menduduki jabatan khalifah di muka bumi yang tidak pernah tergeser sedikitpun oleh makhluk Tuhan yang lain. Berlainan dengan hewan yang hanya memiliki rasa dan karsa, hewan tidak memiliki cipta, bagaimanapun besarnya otak gajah tetap saja gajah tidak memiliki akal yang dapat membuat teknologi canggih menyaingi kecanggihan teknologi manusia, hewan hanya mengikuti naluri yang dengan naluri tersebut tersalurkan ilham ilahiyah sehingga macan tidap pernah membunuh anaknya sendiri, semut dapat membuat kerajaan kecil didalam tanah, berang-berang dapat membuat bendungan dan rumah didalam air, burung dapat terbang dan mengeluarkan suara yang merdu tanpa kursus terpadu sedari kecilnya. Dari manakah mereka mempelajari semua keajaiban ini ? malahan mereka (hewan) menjadi sumber inspirasi bagi manusia dalam merancang teknologi, dari mana lagi semua itu kalau bukan Allah lah yang mengilhaminya melalui naluri binatangnya, semua itu adalah ayat yang tersirat yang dibeberkan Allah di alam semesta ini dan masih banyak lagi pelajaran yang telah Allah beberkan, hanya manusia nya saja yang kurang bersukur dan selalu menafikan existensi Allah ketika akalnya menemukan pelajaran di alam ini, seolah-olah dia lah yang menciptakan hukum grafitasi, seolah-olah dia lah yang menciptakan hukum gerak listrik, tanpa sedikitpun memperansertakan Allah dalam penemuannya.

Dengan karsanya manusia diberi kebebasan memilih alur takdirnya untuk dijalani setiap saat, berbeda dengan para Malaikat yang hanya menjalani single takdir untuk patuh sepenuhnya kepada perintah Allah, beribadah terus menerus tanpa bosan. Itulah sebabnya Allah mengancam dengan azabnya kepada manusia yang lalai dan salah memilih jalan hidupnya dan menanjikan kenikamatan abadi di surga bagi hambanya yang selalu menselaraskan cipta, rasa dan karsanya dengan kehendak Allah. Setiap manusia memiliki tugas yang diamanatkan Allah kepadanya untuk di emban selama hidupnya, hanya manusia yang sadar dan mengerti makna hidup yang sejati yang tau apa tugas yang di embannya.

Setiap manusia terlahir dengan lubang di hatinya berupa kegelisahan tentang pencarian akan sesuatu, ada yang mengisi lubang itu dengan kesombongan materi, ada yang dengan kesenangan dunia, namun secara fitrah manusia baru akan merasa terlengkapi kalau saja dia menemukan cinta Tuhan di dalam hatinya, dan semua itu dipaparkan Allah dengan jelas dalam firmanNya (Al-Qur’an) dan ajaran RosulNya, hanya saja kecerdasan yang dimiliki manusia cendrung membuatnya merasa cukup dan merasa tidak butuh akan tuntunan Tuhan.

Wassalam

Racun Paradigma

Ilmu pengetahuan erat kaitannya dengan kehidupan, biasanya menjabarkan apa dan mengapa-nya. Ilmu pengetahuan timbul dari rasa keingintahuan manusia sebagai makhluk berakal, acap kali sebagai pemuas intelektualitas. Banyak metode dan landasan pemikiran yang berkembang pada saat ini dalam proses manusia mencari apa yang semula ia tidak tau. Namun amat sangat disayangkan jika sebagai manusia yang dalam Al-Qur’an disebutkan sebagai makhluk Allah yang memiliki derajat tertinggi (fii ahsani taqwiim) yang di lengkapi dengan Cipta, Rasa dan Karsa hanya menggunakan Cipta (akal) nya saja sebagai landasan metode mencari ilmu pengetahuan, sehingga sering kali manusia dalam pencariannya hanya sampai pada pengetahuan yang bersifat materi, apa yang terlihat, apa yang terasa maka itu ada (cogito ergo sum), tidak sampai kepada hakikat dari materi tersebut. Inilah fenomena ilmu pengetahuan kita yang pelajari di bangku sekolah mulai dari SD sampai bangku kuliah, yang kita pelajari dari para ilmuwan barat.

Dalam ilmu Islam yang berlandaskan Al-Qur’an yang merupakan wahyu dari sang Maha Pencipta dan Al-Hadits yang merupakan cerita atau uncapan Rasulullah SAW yang menjadi penjabaran dari isi Al-Qur’an itu sendiri banyak mengajarkan ilmu pengetahuan yang penjelasannya sampai kepada hakikat dari materi. Sebagai contoh tentang penciptaan manusia, di bangku sekolah kita mempelajari bahwa manusia berasal dari kera, yang sebelumnya kera itu sendiri berasal dari hewan melata yang berevolusi karena kondisi alam atau kejadian tertentu (teori Darwin). Teori ini terdapat kecacatan pada mata rantai evolusi dari kera menjadi manusia (missing link), dan teori ini telah terbantahkan dengan cerdas oleh seorang ilmuwan islam yang bernama Harun Yahya (www.harunyahya.com). Dalam Al-Qur’an di jelaskan bahwa manusia berasal dari Adam dan Hawa, nyata sekali perbedaan dari kedua pernyataan tersebut, yang satu melecehkan atau menghinakan dan yang satu memuliakan, dan saya merasa tidak satu manusia pun di muka bumi ini yang bersedia dikatakan bahwa dirinya adalah turunan kera meski itu Darwin sendiri. Allah memuliakan manusia dengan menyatakan bahwa manusia adalah keturanan Nabi, yang pada awalnya diciptakan langsung oleh-Nya, dan setelah diciptakan Nabi Adam di banggakan di hadapan para malaikat-Nya, dan memerintahkan para malaikat untuk bersujud (merendahkan diri untuk taat) dihadapan Nabi Adam.

Contoh lain adalah pengetahuan tentang benda, dimana saat ini ilmu yang kita pelajari hanya sebatas susunan dari materi itu sendiri, setiap materi tersusun atas partikel-partikel atom yang kecil yang hanya dapat dilihat dengan microscope, dan partikel-partikel atom itu terdiri dari elektron, proton dan nutron yang saling bergerak. Di dalam pengetahuan islam kita juga mempelajari bahwa setiap yang bergerak pasti mempunyai ruh, dan ruh memiliki tingkatannya di mulai dari ruh bendawi, ruh hewani, dan ruh insani, dan setiap ruh berada dalam kekuasaan mutlaknya Allah. Sebagai pelajaran Allah telah menceritakan api yang menjadi sejuk ketika Nabi Ibrahim Alaihis Sholatu Wassalam dibakar oleh raja Namruz.

Sebagai umat islam kita wajib mengimani (percaya) dengan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an, hal ini mengisyaratkan kita agar dapat menghadapi setiap permasalahan yang ada tidak hanya mengandalkan fikiran (cipta, akal), tetapi juga melibatkan rasa (hati). Agar tidak terjebak dalam pola pikir materialis yang menganggap alam semesta ini terbentuk dengan sendirinya, dan tidak percaya dengan adanya alam kubur, hari kiamat, dan hari kebangkitan dimana setiap manusia dimintai pertanggung jawaban.

Inilah racun paradigma yang telah menjalar hampir ke seluruh ummat manusia yang ada di muka bumi pada umumnya, dan khususnya di bumi Nusantara yang kita cintai ini yang secara kuantitas ummat islam adalah mayoritas. Amat di sayangkan ilmu pengetahuan semacam ini masih belum mendapat revisi dari kalangan pendidik kita khususnya mereka yang beragama islam yang berkesempatan duduk di jajaran pemerintahan. Sekali lagi inilah racun yang menjerumuskan kita kedalam jurang sekuler, rasionalis dan materialis yang hanya mengedepankan logika.

Hadiah Untuk Yusuf

Yusuf putra Ya’kub,
Menerima sahabat lama yang baru saja kembali dari perjalanan panjang,
Ketika ditanya hadiah yang telah dibawa dari perjalanannya,
Sang sahabat menjawab bahwa dia mencari kemana-mana hadiah untuk Yusuf,
Tetapi tidak mampu menemukan apapun yang sesuai karena tidak ada sesuatu pun yang tidak dimiliki Yusuf,
Akhirnya dia menyadari,
Bahwa satu-satunya hadiah yang pantas untuk Yusuf adalah cermin yang mampu memantulkan keindahan Yusuf

Serupa dengan cerita diatas, suatu ketika manusia akan ditanyai Allah tentang hadiah apa yang akan dibawanya dari persinggahannya di dunia ini. Satu-satunya jawaban yang mampu dibuat manusia tanpa akan menjadikan rasa kehinaan adalah menghadiahi Allah dengan cermin yang mengkilap sempurna. Cermin itu akan memantulkan keindahan Allah yang luar biasa. Cermin adalah hati manusia. Ketika sambungan material perunggu dan lapisan karat pada hasrat dirinya dilenyapkan dari permukaan cermin hati, maka hati manusia akan mampu memantulkan keindahan Ilahi. Cermin keberadaan manusia lantas menahan sinar yang muncul dari Ketuhanan. Dan tujuan-Nya dalam menciptakan kemudian terselesaikan, karena Allah lantas akan mampu melihat pantulan diri-Nya dan mengetahui diri-Nya.

“Aku adalah harta karun yang terpendam dan ingin dikenali, maku Aku ciptakan makhluk agar aku dapat di kenali” (Hadits Qudsi)

Dikutip dari Diwan Maulana Jalaluddin Ar-Rumi

Imam Malik “Aalimil Madinah”

Imam Malik adalah salah satu dari 4 Imam dari Mazhab fiqih dari ulama’ ahlus sunnah wal jama’ah, ilmunya begitu tinggi hingga di sebutkan bahwa beliau hapal lebih dari 500 ribu hadits berikut sanad dan matannya yang sampai kepada Rosulullah SAW. Guru Imam Malik yang terutama yaitu Imam Ahmad Ibn Hambal, Imam dari mazhab Hambali yang juga menghapal hadits kurang lebih sama jumlahnya dengan Imam Malik dan Imam Ahmad berguru kepada ‘Al-Faqih Al-Muqoddam’ Muhammad bin Alawi leluhurnya para Alawiyyin yang mana Muhammad bin Alawi ini mendapatkan ilmunya secara turun-temurun, tersambung sampai Imam Ali Zainal Abidin ‘As-Sajjaad’, lalu kepada Imam Husin Bin Ali, lalu Imam Ali bin Abi Thalib ‘Karramallahu Wajhah’, sahabat merangkap sepupu merangkap menantu dari Rosulullah, dan Rosulullah pernah menyatakan bahwa keturunan dari Ali dan Fathimah adalah penerus dari ‘Keturunan Suci’ atau lebih dikenal dengan ‘Ahlul Bait’.

Kelahiran Imam Malik sudah di prediksi sebelumnya oleh Rosulullah SAW sebagai mana sabdanya “Akan lahir sesudah ku seorang yang ‘alim di kota Madinah, yang mana orang-orang akan memicu onta dan kudanya untuk berguru kepadanya”, dan pada masa hidupnya pun orang menggelari Imam Malik dengan gelar “Aalimil Madinah” atau orang yang berilmu dari kota Madinah.

Imam Malik sangat mencintai Rosulullah SAW, sangat menghormati para keluarga Rosulullah, dan sangat menjunjung tinggi hadits-hadits Nabi, apabila beliau ditanya oleh seseorang tentang suatu hadits atau beliau hendak mengajarkan suatu hadits kepada murid-muridnya maka beliau menyempatkan diri untuk memakai pakaian yang bagus, memakai minyak wangi dan bersiwak, setelah itu baru beliau berkata “Aku mendengar dari guruku, dan guruku mendengar dari gurunya…. ” dan seterusnya sampai “Dan salah seorang sahabat mendengar Rosulullah SAW bersabda ……..”, hadist-hadits yang beliau sampaikan terjaga keotentikannya, mencapai derajat shohih, dan di sepakati oleh ulama-ulama lainnya.

Imam Malik adalah guru utama dari Imam Syafi’i, dan Imam Syafi’i adalah murid kesayangan dari Imam Malik, banyak hadits yang diwarisi oleh Imam Syafi’i dari Imam Malik. Hingga suatu saat Imam Malik memanggil Imam Syafi’i dengan bermaksud menghadiahkan kuda dan ontanya yang berjumlah kurang lebih 10.000 ekor kepada Imam Syafi’i. Rasa ingin tau Imam Syafi’i pun mendorongnya untuk bertanya “Mengapa kau hadiahi aku dengan kuda dan onta yang demikian banyak, dan tidak kau sisakan satu pun untukmu ?”, Imam Malik menjawab “Aku hanya ingin berpergian dengan berjalan kaki, karena aku malu menunggangi kuda dan ontaku dia atas muka bumi yang di dalam nya terkubur jasad suci Rosulullah SAW”.

Demikian cermin kecintaan Imam Malik kepada Rosulullah SAW, dan sudah sepatutnya kita ummat yang hidup di akhir zaman ini menghormatinya, karena menghormati ulama sama dengan menghormati Nabi, menghormati Nabi merupakan jalan menuju rido nya Allah SWT.

Nuaim, Sahabat yang Jenaka

Salah satu dari sekian banyak sahabat Nabi tersebutlah Nuaim sebagai sahabat yang jenaka, sering kali perkataan dan perbuatannya membuat para sahabat yang lain, termasuk Nabi sendiri tertawa, dan bukan hanya jenaka tapi Nuaim juga terkenal usil.

Satu kisah yang mashur yaitu ketika Nuaim bermaksud membeli kurma di pasar Madinah, tanpa beban Nuaim mengatakan kalau korma tersebut adalah titipan Rosulullah dan akan di bayar oleh beliau, mengingat yang membeli Rosulullah sang pedagang pun tidak banyak bertanya, percaya pada Nuaim. Hingga selang beberpa hari lewatlah Rosulullah di pasar tersebut, dan si pedagang pun menagih hutang yang menjadi haknya, Rosulullah yang tidak merasa pernah punya hutang kepada pedagang tersebut heran dan berkata “Kurma yang mana ?”, “Yang di ambil Nuaim ya Rosul…..” kata si pedagang, mafhum dengan kelakuan sahabatnya Rosulullah lalu membayar.

Rosul juga bukan type orang yang tidak bercanda walaupun beliau tidak suka yang teralalu berlebihan, maka pada lain kesempatan Rosul secara diam-diam mendatangi Nuaim dan mendekap Nuaim dengan erat, “Siapa yang mau membeli budak……..?” canda Rosul, “Saya ya Rosul 100 Dinar” sahabat yang mengerti maksud Rosulullah pun menanggapi. “50 Dinar ya Rosul, tidak lebih lagi” seru sahabat yang lain tidak mau kalah. Nuaim yang jadi bahan tertawaan saat itu tertunduk dan berkata kepada Rosulullah ” Semurah itukah diriku ya Rosul……….?”, “Tidak” kata Rosul “Engkau mahal di sisi Allah”.

Demikian salah satu cerita kejenakaan Nuaim semasa hidupnya sampai beliau wafat mendahului Rosulullah. Dan ketika wafatnya pemakamannya pun berjalan seperti biasa. Namun para sahabat melihat ada hal yang aneh ketika pemakaman berlangsung, selesai di kuburkan dan hendak beranjak pulang terlihat Rosulullah tersenyum yang nampak tidak seperti biasanya. Dalam perjalanan pulang salah satu sahabat memberanikan bertanya, “Ada apa ya Rosul…..?”, sambil berjalan Rosulullah menjelaskan, “Nuaim ini sahabatku yang selalu membuatku  tersenyum ketika hidup dan matinya, setelah di kuburkan tadi malaikat penanya Mukar-Nakir mendatangi Nuaim, melakukan tugasnya seperti biasa, ketika di tanya ‘Siapa tuhan mu ?’, Nuaim menjawab dengan yakin ‘Allah tuhan ku’ dan ketika sampai kepada pertanyaan ‘Siapa Nabi mu ?’ Nuaim menjawab ‘Tuh di atas lagi nganterin, tanya aja kalo ga percaya’. Itu lah yang membuatku tersenyum” Jelas Rosulullah.